Penyakit malaria merupakan salah satu momok kesehatan masyarakat hampir di seluruh dunia. Penyakit ini adalah penyebab utama kematian di negara-negara berkembang. Korbannya terutama adalah kelompok yang rentan terinfeksi yakni anak-anak dan ibu hamil. Oganisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 41% populasi dunia dapat terinfeksi.
Sejarah
Penyakit ini telah diketahui ada selama lebih dari 4000 tahun yang lalu. Istilah “malaria” diambil dari bahasa Italia mal’aria atau bad air yang artinya udara kotor.
Gejala-gejala penyakit ini sudah ditulis dalam buku kedokteran Cina purba dalam Nei Ching pada 2700 sebelum Nabi Isa lahir. Di Yunani sudah dikenal pada ke-4 SM dan dipercaya sebagai penyebab utama berkurangnya penduduk-penduduk kota di daerah itu. Risalah kedokteran Sanskrit, Susruta, sudah menguraikan gejala penyakit, yakni demam, sebagai akibat dari gigitan serangga. Pada saat itu beberapa penulis Roma telah menghubungkan penyakit ini dengan rawa-rawa.
Obat antimalaria sudah dikenal sejak 340 Masehi, sebagaimana diuraikan oleh Ge Hong dari Dinasti Yin Timur. Dia menjelaskan sifat-sifat antidemam pada tanaman Qinghao (Artemesia annua L.) Bahan aktif tanaman ini diisolasi oleh para ahli Cina pada 1971. Pada awal abad ke-17 seorang Spanyol di Amerika Selatan mengetahui kulit tumbuhan yang mengandung obat yang biasa dipakai oleh suku Indian. Kini obat obat dari tumbuhan itu dikenal sebagai quinine. Bersama dengan artemisinin, quinine adalah salah satu obat antimalaria yang paling efektif saat ini.
Jenis Penyakit Malaria
Hingga saat ini dikenal empat jenis malaria yang dapat menginfeksi manusia, yaitu Plasmodium falciparum, P. vivax, P. ovale, dan P. malariae. Dari keempat jenis parasit ini, yang dianggap paling berbahaya adalah Plasmodium falciparum. Masa inkubasi berkisar antara 7-30 hari. Periode yang lebih pendek ditemukan pada P. falciparum dan yang lebih panjang pada P. malariae.
Camillo Golgi, seorang neurophysiologist Italia, menetapkan bahwa sekurang-kurangnya ada bentuk penyakit ini, dengan periode tertian (demam setiap dua hari) dan periode quartan (demam setiap tiga hari).
Gejala Penyakit Malaria
Gejala umum pada penderita dapat menunjukkan kombinasi dari gejala-gejala berikut:
- demam,
- berkeringat dingin,
- sakit kepala,
- mual,
- muntah-muntah,
- gatal-gatal, dan
- rasa tidak enak badan.
Serangan malaria biasanya berlangsung selama 6-10 jam dan terdiri dari tiga tingkatan, yaitu:
- tingkatan dingin (dingin yang sensai, gemetarI
- tingkatan panas (demam, sakit kepala, muntah; serangan pada anak-anak)
- tingkatan berkeringat (berkeringat, kembali ke suhu normal, kelelahan)
Secara klasik serangan terjadi setiap dua hari untuk parasit tertian (P. falciparum, P. vivax, P. ovale), dan setiap tiga hari untuk parasit kuartan (P. malariae).
Vektor Penyakit Malaria
Vektor penyakit ini adalah nyamuk Anopheles meskipun tidak semua jenis Anopheles dapat menjadi vektor yang baik. Sebagai contoh, Sembel dkk. menemukan 23 spesies Anopheles di Sulawesi Utara, tetapi hanya 9 spesies yang diketahui menjadi vektor malaria. Di Indonesia, hasil survei yang dilakukan oleh unit kerja Serangga Vektor Penyakit menemukan 46 jenis nyamuk Anopheles. Hanya 20 spesies dari jumlah tersebut yang merupakan vektor penyakit.
Nyamuk Anopheles senang berbiak di air yang tergenang, air payau, bahkan air-air kotor. Beberapa spesies Anopheles betina lebih suka mengisap darah manusia, sementara yang lainnya lebih menyukai darah hewan. Ada jenis yang lebih senang menggigit dalam rumah (endophagic) dan ada yang lebih suka di luar rumah (exophagic).
Siklus Hidup
Pada manusia, parasit tumbuh dan berkembang biak pertama kali di dalam sel hati (A) dan kemudian di dalam sel darah merah (B). Dalam darah, induk parasit berkembang biak di dalam sel darah merah dan menghancurkannya, melepaskan anak parasit (“merozoit”) yang melanjutkan siklus dengan menyerang sel darah merah lainnya.
Parasit tahap darah adalah yang menyebabkan gejala malaria. Ketika parasit tahap darah (gametosit, jantan dan betina) tertelan selama makan darah oleh nyamuk Anopheles betina, mereka kawin di dalam usus nyamuk dan memulai siklus pertumbuhan dan multiplikasi dalam tubuh nyamuk. Setelah 10-18 hari, bentuk parasit yang disebut sporozoit bermigrasi ke kelenjar liur nyamuk. Ketika nyamuk Anopheles menggigit manusia lain, air liur antikoagulan disuntikkan bersama dengan sporozoit, lalu bermigrasi ke hati, dan memulai siklus baru.
Dengan demikian nyamuk yang terinfeksi membawa penyakit dari satu manusia ke manusia lainnya (bertindak sebagai “vektor”), sementara manusia yang terinfeksi menularkan parasit ke nyamuk. Berbeda dengan manusia, nyamuk tidak menderita dari keberadaan parasit.
Tahapan lebih rinci dapat Anda lihat pada gambar di bawah.
Tahap-tahap Siklus Hidup Malaria
Siklus hidup parasit malaria melibatkan dua inang, yaitu nyamuk dan manusia. Selama makan darah, nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi malaria menginokulasi sporozoit ke dalam tubuh manusia (1). Sporozoit masuk ke aliran darah, menginfeksi sel-sel hati (2) dan berkembang menjadi skizon (3), pecah melepaskan merozoit (4). P. vivax dan P. ovale memiliki tingkat dorman (hypnozoites); dapat bertahan di hati (jika tidak diobati) dan menyebabkan kambuh dengan menyerang darah sesudah beberapa minggu, atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Setelah replikasi awal ini di hati (A), parasit mengalami multiplikasi aseksual pada eritrosit (B).
Keturunan baru (spora) hasil perbanyakan tadi disebut merozoit, menginfeksi sel-sel darah merah (5). Tahap trofozoit matang menjadi skizon, yang pecah melepaskan merozoit (6). Beberapa merozoit dalam darah berkembang menjadi sel khusus yang disebut gametosit atau gamet (7). Pada tahap inilah (parasit tahap darah) penderita menunjukkan gejala-gejala penyakit. Bila nyamuk Anopheles betina menggigit penderita, maka nyamuk tersebut akan memakan gametosit jantan (mikrogametosit) dan betina (makrogametosit) (8). Penggandaan parasit pada nyamuk dikenal sebagai siklus sporogonik (C).
Sementara di perut nyamuk, gamet-gamet sperma dan telur) bersatu menghasilkan zigot (9). Zigot pada gilirannya menjadi motil dan memanjang (ookinetes) (10) yang menyerang dinding midgut nyamuk tempat mereka berkembang menjadi ookista (11). Ookista tumbuh, pecah, dan melepaskan sporozoit, yang menuju ke kelenjar ludah nyamuk. Bila nyamuk ini menggigit orang lain, sporozoit disuntikkan lagi, siklus hidup malaria dimulai kembali.
Penyebaran Penyakit Malaria
Penyakit ini tersebar di sekitar 100 negara tropis dan subtropis seperti India, Amerika Selatan (kecuali Cili), Amerika Tengah, Meksiko, Afrika, Afghanistan, Cina, Sri Langka, Thailand, Indonesia, Vietnam, Kamboja, dan Filipina.
Suhu merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan dan siklus hidup parasit. Misal, pada suhu yang sangat dingin, katakanlah di bawah 20 °C, P. falciparum tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya dalam tubuh nyamuk Anopheles. Jika begitu, plasmodium tidak dapat ditularkan. Sebaliknya, di daerah-daerah beriklim panas dekat khatulistiwa penularan dapat terjadi lebih cepat dan sepanjang tahun. Tetapi P. vivax lebih tahan terhadap cuaca dingin, penyebarannya lebih menonjol di daerah yang beriklim agak dingin.
Pencegahan dan Pengendalian Malaria
Malaria tidak dapat disembuhkan, adapun pengobatan hanya untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit. Parasit dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur hidup, itulah mengapa malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya. Pengobatan malaria dengan ekstrak kulit tanaman cinchona sudah dilakukan sejak 1638. Bahan yang sangat beracun dalam kulit cinchona dapat menekan pertumbuhan protozoa dalam darah.
*Sumber gambar: CDC
Berapa lama masa inkubasi Plasmodium Vivax dan Plasmodium Ovale?
Apakah malaria dapat tertular bila kita berkontak fisik dengan sang penderita?
Penyakit malaria di sebabkan oleh infeksi plasmodium sp. yang di bawa vektor nyamuk anopheles. penyakit ini dapat menyebabkan anemia. mengapa hal ini terjadi ?
Apakah berbahaya bagi ibu hamil kila terkena penyakit malaria ?